st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Tahoma; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
“Jangan kamu menikahi wanita karena kecantikannya, karena mungkin kecantikannya itu membawa kehancuran. Janganlah kamu menikahi wanita karena hartanya, mungkin harta itu akan membawa kezhaliman. Tetapi nikahilah wanita karena agamanya” (Hadist Rasulullah saw)
Tidak setiap wanita yang siap menikah langsung siap menjadi ibu. Adalah sebuah kehormatan bagi wanita, ketika Allah memberikan amanah sebagai ibu. Sebuah tugas mulia dalam rangka membentuk generasi muslim yang tangguh dan bertaqwa yakni anak-anak yang unggul dalam hal fisik (jasadiyah), kecerdasan (fikriyah) serta spiritualnya (ruhiyah) generasi seperti itulah yang diharapkan dapat menguasai dan mengendalikan dunia seperti yang diungkap oleh sahabat utama Umar bin Khattab ra. “Jika kau ingin mengambil dunia, genggamlah lebih dahulu para pemudanya.”
Setidaknya ada 3 komponen pendidikan yang mempengaruhi anak. Pertama, disekolah, kedua lingkungan rumah (ada keluarga dan peran ibu), terakhir adalah Mesjid. Ketiga komponen itulah tempat sesungguhnya pendidikan akhlak anak banyak berperan.
Disekolah ia mendapatkan pengetahuan, dirumah ia mendapatkan pendidikan akhlak dan suri tauladan dan dimesjid ia belajar mengenal tauhid dan kebesaran Allah swt. Sementara semasa kandungan hingga menjelang sekolah, ia harus langsung dibawah binaan ibundanya. Karena itulah pepatah Arab mengatakan “Al Ummu Al Madrasatu (Ibu adalah sekolah pertama sebagai seorang anak). Adalah seorang Muhammad Hussein Tabataba’I, anak jenius yang selalu menjawab berbagai pertanyaan dan problema hidup dengan isi kandungan Al Qur’an. Ia menerima ijazah Doktor Honoris Causa dalam bidang “Science of The Retention of The Holy Qur’an” di Gedung Hijaz College Islamic University, Birmingham. Ia seorang bocah 7 tahun asal Persia, Iran. Meski banyak buku mengulasnya, namun hanya ada beberapa rahasia yang bisa kita petik darinya. Bersama saudara-saudaranya, ia lahir dari keturunan ibu-bapak penghafal Al Qur’an. Apa yang ia lihat, yang dirasaka dan didengar setiap hari sejak kecil adalah Al Qur’an. Sejak usia 2 tahun 4 bulan, Hussein sudah menghafal juz ke 30 (Juz ‘Amma) secara otodidak.
Syeikh Abu Bakar Al ‘Awawidah, anggota perhimpunan ulama Palestina yang kini bermukim di Suriah pernah menceritakan rahasia. Meski ribuan mujahid Palestina terus mati dalam perang, namun jutaan bayi-bayi Palestina lain selalu lahir dan tetap memiliki “spririt jihad” yang tak pernah surut.
Menurut beliau, rahasianya karena anak-anak Palestina senantiasa dididik dan dibesarkan tak jauh dari mesjid. Mesjid tempat melahirkan kader-kader tangguh dan tegak berdiri dengan kalimat La ilaaha illallah.
Bahkan kini disinyalir di Palestina itu paling banyak doktornya di dunia, jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Jadi, pendidikan bukan masalah remeh di sana. Dalam satu kali wisuda di Palestina terhadap 3.500 anak yang hafidz (hafal) Qur’an. Hal ini membuktikan bahwa para ibu di Palestina memiliki semangat yang tinggi dalam hal pendidikan walaupun kondisi begitu sulit.
Bagi seorang muslimah betapapun beratnya tugas sebagai ibu, keimanan dan harapannya akan iming-iming surga memotivasinya untuk rela dan bersungguh-sungguh menjadi seorang ibu. Ibu yang berperan optimal sehingga membawa keberkahan bagi keluarganya, masyarakatnya bahkan agamanya.
Tidaklah berlebihan jika Dr. A. Majid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam konferensi Dunia tentang wanita di Beijing September 1995 yang lalu mengungkapkan, “Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan ketrampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan terutama di masa-masa awal pertumbuhannya. Walaupun tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time tak berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut bertanggung jawab. Tak ada satu jenis pekerjaanpun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”
Merekalah ibu……….yang bukan sembarang ibu.